PEMERINTAH ACEH
Ditulis oleh , pada Rabu, 06 Januari 2016

SHARIAH LAW IN ACEH

1.Sharia Law is derived from religious teachings of Al-Qur'an and Sunnah. It contains the teachings of Islam that deal with man's relationship with God, relationships with fellow Human-Beings and human relationships with the Natural World.

2.The main substance of the Sharia Law is Peace.  Islam is to bring Peace and Welfare to the entire Universe (Rahmatan lil ' Alamin). Muslims believe that the teachings of Islam would attain Salvation and Happiness in the World and the Here-after.

3.Aceh is the only province that has special previleges and wide-range of autonomy to govern it self within Indonesia. The  special previleges on education, culture, religion and the role of Ulamas are stated in the Article Law  44 (Year 1999); In addition to that, after the Peace Agreement between Free Aceh Movement and the Government of Indonesia, Aceh is allowed to implement LOGA (Law on Governing Aceh) also known as the law for Self-Government for Aceh (Article Law. 11, 2006).

4.One of the legal rights granted to Aceh within LOGA is the implementation of Shariah Law in all dimensions of the day-to-day life of Acehnese society.   Sharia Law is to cover the way the Acehnese Worship, family law (ahwal syakhsiyah), civil law (mu'amalat), criminal law (jinayah) , justice (qadha), education,  (tarbiyah) preaching  (dakwah), and the defense of Islam in Aceh as stipulated in the Article 125 of Law No.  11 of 2006.

5.The implementation of Shariah law in the life of Acehnese people is within the national legal system in the Unitary State of Republic of Indonesia (NKRI) as mentioned in Article 128 of Law No. 11 of 2006.

6.The Government of Aceh in coordination with the House of Representatives of Aceh (DPRA) is to create Regulation (Qanun) on Shariah Law. The regulation is the same as the Local Regulation in other provinces in Indonesia, except that in certain cases can differ because of Special Privilages given to Aceh and the way Aceh is authorized to  implement Shariah law.

7.Shariah law in Aceh regulated by Qanun not only to regulate the Criminal Law, but the Shariah Law is also to regulate issues on economic, trade, banking, social life and even politics issues. 

8.Sharia law in Aceh is ONLY intended for every Muslim resided in Aceh, and DOES NOT apply to non-Muslims.  For  the  non-Muslims who wants to follow Shariah Law, he or she will be accepted.

9.Shariah Law Qanun IS NOT only be implemented in the criminal aspects  (jinayah), but also in economics like Zakat, Wakaf , Infaq, Education, and others.

10.The implementation of Sharia Law in Aceh is to adhered to the standard rule of Human Rights;  and Islam upholds Human Rights values.

11.Aceh Government guarantees religious freedom, harmony between religious communities in Aceh, and do not discriminate against any religion. Prophet Muhammad SAW has given example of diversity and religious harmony in the State in Madinah 14 centuries ago by the implementation of Medina Charter. Jewish community, Christians, Qibthi, Fire Worshippers and various other beliefs co-existed and they carry out their religious laws under the leadership of the Prophet Muhammad SAW.  The Acehnese People will follow the sample of Prophet Muhammad SAW practices. 

 

Banda Aceh ,15  December 2015

The Governor  of  Aceh                                                                         Vice Governor of Aceh

 

   ZAINI  ABDULLAH                                                                                MUZAKIR MANAF

 

(TERJEMAHAN)

HUKUM SYARIAH DI ACEH

1.Undang-undang Syariah berasal dari ajaran agama Al - Qur'an dan Sunnah . Ini berisi ajaran Islam yang berhubungan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia-Makhluk dan hubungan manusia dengan Natural World .

2.Substansi utama dari Hukum Syariah adalah Perdamaian. Islam adalah untuk membawa perdamaian dan Kesejahteraan ke seluruh alam semesta ( Rahmatan lil ' Alamin ) . Muslim percaya bahwa ajaran Islam akan mencapai Keselamatan dan Kebahagiaan di Dunia dan Berikut - setelah.

3.Aceh adalah satu-satunya provinsi yang memiliki previleges khusus dan berbagai-macam otonomi untuk memerintah diri di Indonesia . The previleges khusus pada pendidikan , budaya, agama dan peran Ulama dinyatakan dalam UU Pasal 44 ( Tahun 1999 ) ; Selain itu, setelah Perjanjian Perdamaian antara Gerakan Aceh dan Pemerintah Indonesia , Aceh diperbolehkan untuk melaksanakan UUPA (Undang-Undang Pemerintahan Aceh ) juga dikenal sebagai hukum untuk Self- Government untuk Aceh ( Pasal UU . 11 , 2006).

4.Salah satu hak hukum yang diberikan kepada Aceh dalam UUPA adalah pelaksanaan hukum Syariah di semua dimensi kehidupan sehari- hari masyarakat Aceh . Hukum syariah adalah untuk menutupi jalan Ibadah Aceh , hukum keluarga (syakhsiyah ahwal), hukum perdata (mu'amalat) ,hukum pidana (jinayah) , keadilan (qadha), pendidikan, (tarbiyah) memberitakan (dakwah), dan pertahanan Islam di Aceh sebagaimana diatur dalam Pasal 125 UU No. 11 tahun 2006.

5.Pelaksanaan hukum Syariah dalam kehidupan masyarakat Aceh adalah dalam sistem hukum nasional dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006.

6.Pemerintah Aceh berkoordinasi dengan DPR Aceh (DPRA) adalah untuk menciptakan Peraturan (Qanun) Hukum Syariah. Peraturan tersebut adalah sama dengan Perda di provinsi lain di Indonesia , kecuali bahwa dalam kasus-kasus tertentu bisa berbeda karena hak istimewa khusus diberikan kepada Aceh dan cara Aceh berwenang untuk menerapkan hukum Syariah.

7.hukum Syariah di Aceh diatur dengan Qanun tidak hanya untuk mengatur Hukum Pidana, tetapi Hukum Syariah juga mengatur isu ekonomi, perdagangan, perbankan, kehidupan sosial dan bahkan masalah politik.

8.hukum Syariah di Aceh hanya ditujukan untuk setiap muslim tinggal di Aceh, dan TIDAK berlaku untuk non-Muslim. Untuk non-Muslim yang ingin mengikuti Hukum Syariah, dia akan diterima.

9.Syariah Hukum Qanun TIDAK hanya diimplementasikan dalam aspek pidana (jinayah), tetapi juga di bidang ekonomi seperti Zakat, Wakaf, Infaq, Pendidikan, dan lain-lain.

10.Pelaksanaan Hukum Syariah di Aceh adalah untuk berpegang pada aturan standar Hak Asasi Manusia; dan Islam menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia.

11.PemerintahAceh menjamin kebebasan beragama, kerukunan antar umat beragama di Aceh, dan tidak mendiskriminasi agama apapun. Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh keragaman dan kerukunan beragama di Negeri di Madinah 14 abad yang lalu oleh pelaksanaan Piagam Madinah. Komunitas Yahudi, Kristen, Qibthi, Api Worshippers dan berbagai kepercayaan lain ikut-ada dan mereka melaksanakan hukum agama mereka di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Rakyat Aceh akan mengikuti contoh dari praktek SAW Nabi Muhammad

 

 

                          Banda Aceh , 15 Desember 2015

    Gubernur Aceh                                                                                            Wakil Gubernur Aceh 

 

   ZAINI ABDULLAH                                                                                          MUZAKIR MANAF

 

 


Category: Agama

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32